Agama Islam dan Akhlak

  Disukai
  Dilihat 32
bacaan

sumber ilustrasi : Dokumen pribadi
Diterbitkan : 14 November 2021 07:28
Sumber : Pemikiran sendiri dan koran Pikiran Rakyat
Penulis : MOCH. HISYAM

Agama Islam dan Akhlak

Oleh : Moch. Hisyam

Agama itu melahirkan akhlak. Bahkan seluruh isi dari agama itu bersendikan akhlak. Baik itu, tauhid, fikih, maupun lainnya pasti mengandung akhlak. Namun, tidak sebaliknya. Akhlak bukanlah agama.

Tidak setiap akhlak berasal dari agama. Hal itu harus kita pahami karena saat ini tidak sedikit orang yang menyamakan akhlak dengan agama sehingga kata akhlak seakan sudah merangkum terhadap agama. Padahal agama itu ibarat ibunya dan akhlak anak kandungnya. Mana mungkin anak merangkum terhadap induk.

Adanya sabda Rasulullah SAW bahwa tujuan beliau diutus kemuka bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia bukan berarti beliau menyempurnakan akhlak tanpa agama. Akan tetapi, justeru penyempurnaan akhlak yang dilakukan oleh beliau adalah akhlak yang bersumber dari agama yang dibawanya, yaitu dinnul Islam.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami kaitan agama dengan akhlak dan kaitan akhlak dengan agama. Manfaatnya, supaya kita tidak terkecoh dengan istilah akhlak sehingga melupakan agama.

Agama menurut banyak ahli berasal dari bahasa sansekerta, yaitu a berati tidak dan gama berarti kacau. Maka agama berarti tidak kacau (teratur).

Dengan demikian agama itu adalah peraturan, yaitu peraturan yang mengatur keadaan manusia maupun mengenai sesuatu yang ghaib, mengenai budi pekerti, dan pergaulan hidup manusia (Faisal Ismail, paradigma Kebudayaan Islam : Study Kritis dan Refleksi Historis, halaman 28).

Kaitannya dengan akhlak, agama merupakan sumber dari akhlak. Bahkan, Al-qur’an sebagai pedoman peraturan tertinggi dari agama Islam adalah akhlak itu sendiri. Aisyah ra pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW, maka beliaupun menjawab, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.

Qotadah mengatakan, ia (khuluq) adalah sesuatu yang beliau laksanakan dari perintah Allah SWT dan sesuatu yang beliau jauhi dari larangan Allah, dan maknanya, Sesungguhnya engaku benar-benar berakhlak dengan akhlak yang diperintahkan Allah SWT dalam Al-Qur’an.

Akhlak berasal dari bahasa Arab dari kata khuluq yang berarti tingkah laku, tabiat, atau perangai. Secara istilah, akhlak yaitu sifat yang dimiliki seseorang, telah melekat, dan biasanya akan tercermin dari perilaku orang tersebut.

Kaitannya dengan agama, akhlak itu merupakan objek dari agama. Artinya, akhlak tidak berdiri sendiri tapi ada yang memengaruhinya. Jika pengaruhnya dari agama akan menjadi baik dan jika pengaruhnya dari hawa nafsu dan lingkungan buruk, akan menjadi akhlak tercela.

Dengan demikian, jika akhlak didahului dengan nilai-nilai agama maka akan menjadi akhlak mulia dan menjadikannya sebaik-baiknya orang dalam agamanya. “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang paling baik akhlaknya.” (Riwayat Abu Dawud).

Sebaliknya, bila akhlak tidak diawali dari agama, tetapi dipengaruhi oleh hal-hal lain selain agama dikhawatirkan yang timbul adalah akhlak yang tercela.

Untuk itu, sangat dapat dipahami jika kemarin-kemarin banyak dari para ulama yang menggugat hilangnya frasa agama di dalam peta pendidikan Indonesia yang hanya cukup dengan mencantumkan frasa akhlak dan budaya karena dikhawatirkan akhlak yang tidak didahului dengan agama akan melahirkan akhlak yang bertentangan dengan agama dan budaya luhur bangsa Indonesia. Wallahu’alam***

Catatan : Artikel saya ini telah saya kirim ke Koran Pikiran Rakyat dan dimuat pada tanggal 19 Maret 2021


Bookmark

Cari Artikel Lain

Artikel terkait lainnya