Anda Guru Hebat? Pakai “MOPAS” Saja!

  Disukai 215x
  Dilihat 422x

6:48 am

bacaan

sumber ilustrasi :
Sumber : Buku, Artikel Jurnal, dan Pemikiran Penulis
Penulis : Anton Setiawan
Jenis Kontributor : PPG

“It is the supreme art of the teacher to awaken joy in creative expression and knowledge”- Albert Einstein

 

     Artikel ini diawali dengan quote seorang ilmuwan besar dunia, Albert Einstein. Kutipan tersebut sedikit banyak membuka wawasan guru bahwa dalam pembelajaran yang terpenting adalah membangkitkan kesenangan siswa dalam ekspresi dan pengetahuan kreatif. Dengan kata lain, pembelajaran seharusnya menyenangkan dan menumbuhkan rasa ingin tahu serta meningkatkan kreativitas siswa. Nah, dalam hal ini, Guru Hebat sangat memahami apa yang seharusnya dipersiapkan dan dilakukan dalam pembelajaran.

     Bung Karno pernah berkata, “Beri Aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia.” Dalam dunia pendidikan kita dapat mengambil inspirasi dari ungkapan Sang Proklamator melalui teknik Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM) sehingga menjadi: “Beri Aku sepuluh Guru Hebat, maka akan kuubah pendidikan Negeri ini.” Mantap! Alangkah indahnya jika setiap individu yang berlabel guru mempunyai semangat Guru Hebat. Guru Hebat mampu berkarya dengan potensi dan kreativitas diri sendiri. Guru Hebat mampu mencari dan menemukan apa yang diperlukan siswa daam pembelajaran. Selain itu, Guru Hebat juga mampu menciptakan sesuatu yang orisinil, bukan hasil dari salin rekat karya dan pemikiran orang lain. 

     Sudah waktunya guru berinisiatif dengan pemikiran yang Out of the box. Berkaitan dengan hal tersebut, penulis menawarkan konsep “Pembelajaran Ala Saya” atau “MOPAS.” Konsep “MOPAS” mengakomodir kreativitas guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Karena konsepnya “Pembelajaran Ala Saya,” guru didorong untuk bebas menentukan model pembelajaran buatan sendiri beserta langkah pembelajaran atau sintaksnya. Secara sederhana, berilah nama model pembelajaran itu dan tambahkan sintaks atau langkah pembelajarannya. Melalui model pembelajaran ciptaan sendiri itu, Guru Hebat akan lebih kreatif dalam menentukan kebutuhan serta skenario pembelajaran dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran. Pertanyaannya, apakah boleh seperti itu? Jawabnya tentu saja sangat boleh mengingat guru yang lebih memahami apa yang harus dilakukan untuk siswanya. Merdeka belajar kan?

     Rekan guru perlu tahu bahwa dalam pembelajaran Bahasa, pada tahun 1990-an sudah memasuki era Post Method Pedagogy, masa dimana sudah tidak ada metode terbaik dalam pembelajaran  (Prabhu, 1990). Berdasarkan pengalaman dalam proses belajar mengajar, setiap guru menghasilkan praktik baik yang pada dasarnya bukan berasal dari konsep metode yang telah diciptakan oleh para ahli sebelumnya. Oleh karenanya, sudah saatnya guru menteorikan praktik, bukan hanya sekedar mempraktikkan teori (Kumaravadivelu, 2008). Bersinergi dengan konsep Merdeka Belajar di Negeri ini, Post Method Pedagogy nampaknya sangat sesuai untuk digaungkan penerapannya ke semua mata pelajaran. Guru harus lebih berdaya untuk menciptakan “Metode Pembelajaran Ala Saya” atau “MOPAS” karena guru sangat paham dengan karakteristik siswa, lingkungan belajar, bahan ajar serta media pembelajaran yang akan diterapkan kepada siswanya. 

     Satu lagi yang mendasari penulis menawarkan ide ini. Konsep “MOPAS” dilatarbelakangi oleh masih banyaknya guru yang salin rekat model pembelajaran yang sudah ada. Beliau menggunakan model pembelajaran yang sudah ada di “pasaran” yang sebenarnya kurang sesuai dengan kebutuhan siswa dan tujuan pembelajaran. Tak jarang juga rekan guru menggunakan model pembelajaran tertentu namun tidak menyertakan sintaksnya. Sebagai contoh, dalam RPP guru menuliskan model pembelajaran Inquiry. Namun, belum semua guru paham apa dan bagaimana model pembelajaran Inquiry itu. Alhasil, langkah pembelajaran atau sintaks yang merupakan satu kesatuan dan harus dijalankan dalam pembelajaran tersebut gagal diterapkan dengan baik. Karena menggunakan model pembelajaran orang lain, kita harus menerapkan sintaks dalam model pembelajaran itu. Tidak boleh tidak. Lalu, mengapa kita tidak menciptakan model pembelajaran sendiri untuk kegiatan pembelajaran kita sendiri dan meninggalkan jauh-jauh model pembelajaran orang lain? Dalam konsep “MOPAS” ini guru dapat menciptakan model pembelajaran yang orisinil beserta nama dan langkah pembelajarannya. Sebagai contoh, penulis menawarkan model pembelajaran “Word on Word” atau “WOW” dalam pembelajaran Bahasa Inggris untuk materi teks deskriptif (RPP dapat dilihat dan diunduh di: http://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/rpp/kreatif-pd-dengan-model-pembelajaran-wow/) Untuk selanjutnya, giliran Bapak dan Ibu Guru Hebat yang membuatnya ya?

     Sedikit berandai-andai, jika seorang guru melaksanakan konsep “MOPAS” dan menciptakan satu model pembelajaran sendiri dalam satu semester saja, bisa dihitung berapa banyak model pembelajaran original yang diciptakan oleh Guru Hebat se-Indonesia? Betapa menyenangkannya proses pembelajaran yang ada di dalamnya. Berapa banyak praktik baik yang telah dilakukan oleh guru-guru inovatif tersebut? Sebagai hasilnya, berapa banyak siswa kreatif yang tercipta dari proses pembelajaran yang luar biasa itu? Semoga ide kecil ini dapat mengubah pendidikan di Negeri ini menjadi semakin baik. Penulis sangat yakin, sesuatu yang besar hari ini, pasti akan melalui tahapan kecil kemarin pagi. Kita mampu karena kita mau, kita bisa karena terbiasa. When there’s a will, there’s a way!” Anda Guru Hebat? Pakai “MOPAS” saja!

 

Referensi: 

Kumaravadivelu, B. (2008). Beyond methods: Macrostrategies for language teaching. Yale University Press.

Prabhu, N. S. (1990). There is no best method-Why?. Tesol quarterly, 24(2), 161-176.

 

Penulis adalah guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 26 Surabaya yang masih perlu belajar dalam berbagai hal. Belajar sepanjang hayat.



Cari Artikel Lain

Artikel terkait lainnya