METODE BERDEFERENSIASI MENGOBATI FOBIA PESERTA DIDIK DALAM PROSES PEMBELAJARAN MATEMATIKA

  Disukai 101
  Dilihat 5094
bacaan

sumber ilustrasi : PESERTA DIDIK YANG SEDANG MENEMPEL TUGAS PORTOFOLI
Diterbitkan : 1 Juni 2022 11:59
Sumber : TOMLINSON (2000)
Penulis : MULIANA

 Metode Berdeferensiasi Mengobati Fobia Peserta Didik Dalam Proses Pembelajaran Matematika

Oleh : Muliana, S.Pd.,M.Pd

Guru SMP Negeri 6 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara

Pendidik merupakan aktor utama dalam dunia pendidikan oleh karena itu salah satu modal utama yang harus dimiliki guru dalam proses pembelajaran adalah mampu memilih jurus-jurus ampuh atau upaya dalam memilih metode-metode pembelajaran yang dapat mengobati sekaligus menghilangkan rasa khawatir yang berlebihan dalam hati peserta didik (Fobia) terhadap mata pelajaran yang diampuhnya terlebih lagi sebagai pengampuh mata pelajaran matematika. Salah satu fobia yang dirasakan peserta didik sejak awal saya bertugas di SMP Negeri 6 Kolaka Utaransampai sekarang adalah tertanamnya mindset peserta didik yang mengatakan matematika adalah pelajaran yang sulit.

Mindset peserta didik ini menumbuhkan upaya bagi penulis sebagai pendidik pengampu mata pelajaran matematika berpikir keras dalam memilih metode yang dapat membuat peserta didik merasa terundang dan butuh belajar matematika sebagaimana yang diungkapkan oleh Tomlinson (2000) yang mengungkapkan bahwa metode berdeferensiasi merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Dimana kebutuhan belajar setiap individu murid dia dikategorikan menjadi tiga aspek yaitu kesiapan belajar murid (readiness), minat belajar murid dan profil belajar murid. Metode ini memiliki tiga strategi, yaitu : deferensiasi konten, proses, dan produk.

Kelebihan dari metode berdeferensiasi meliputi : sifak proaktif, sifat kualitatif, berakar pada penilaian, menggunakan beberapa pendekatan terhadap konten, proses dan produk, berpusat pada peserta didik, merupakan kombinasi dari seluruh elemen kelas, kelompok serta individu, bersifat organik dan dinamik. 

Langkah-langkah dalam menerapkan metode berdeferensiasi di kelas yang penulis lakukan terdiri dari 3 langkah yaitu : (1) melakukan identifikasi atau pemetaan berdasarkan tiga aspek (readiness, minat, dan propil belajar), (2) merencanakan proses pembelajaran berdasarkan hasil identifikasi mengenai tiga aspek tersebut, (3) melakukan evaluasi yang berkelanjutan, merespon kebutuhan belajar peserta didik, melakukan refleksi pembelajaran yang sedang dilaksanakan.

Pada awal bulan oktobel di tempat penulis mengajar sudah mendapat izin dari satgas Covid-19 untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka terbatas, maka pada saat itu penulis mencoba menerapkan metode berdeferensiasi yang diawali dengan menata ruang belajar agar tampak lebih menarik dan nyaman sehingga peserta didik merasa terundang hadir pada ruang belajar kita, kemudian menyapa peserta didik setiap bertemu dimana saja agar peserta didik terbiasa berkomunikasi dengan penulis, karena dengan kebiasaan berkomunikasi maka akan menghilangkan rasa was-was dalam dirinya bahwa guru matematika itu biasanya galak, Jadi dari awal kita tampakkan bahwa guru matematika itu bukan galak hanya tegas. Dilanjutkan dengan memperhatikan kebutuhan kebutuhan belajar individu setiap peserta didik. 

Aspek pertama adalah kesiapan belajar peserta didik (readiness), untuk memperhatikan aspek ini maka penulis memberikan tes awal (penilaian diagnostik), namun penulis tidak memberitahukan bahwa ini adalah sebuah tes, cuma penulis jelaskan bahwa ibu hanya ingin melihat materi apa yang cocok dulu saya ajarkan setelah melihat hasil kalian, karena kalau penulis katan tes maka biasanya peserta didik merasa takut yang biasanya sangat terlihat diraut wajahnya, Jumlah soal minimal 3 nomor dan maksimal 5 nomor supaya tidak banyak menyita waktu. Aspek kedua dan ketiga (minat dan profil belajar peserta didik), cara penulis untuk memperhatikan aspek ini dengan jalan meminta peserta didik menuliskan dikertas mata pelajaran yang mereka sukai, sukunya, bahasanya, dan tinggalnya bersama siapa. Penulis lakukan ini untuk memudahkan membuat kelompok belajar supaya tercipta suasana kolaboratif yang baik.

Selain dari tiga aspek ini penulis pun memperhatikan kriteria dari segi gaya belajar peserta didik mulai dari auditori, visual dan kinestetik. Dengan jalan memperhatikan kebiasaan peserta didikpada saat belajar. Oleh karena itu penulis mengemas materi ajar yang dapat membawahi gaya belajar tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa kekuatan gaya audio berada pada pendengaran sehingga mereka butuh dijelaskan sehingga penulis menyiapkan vidio pembelajaran, visual pada penglihatannya sehingga penulis siapkan materi dalam powerpoint, kinestetik membaca sambil mempraktikkannya.

Dalam proses kegiatan belajar, biasanya penulis mengawali dengan salam kemudian membuat rileks dengan menanyakan kabarnya, kesiapannya dalam belajar  diiringi dengan permainan agar peserta didik lebih rileks dan merasa sangat diperhatikan kondisinya sehingga mereka tidak merasa terpaksa ikut belajar. 

Kreasi penulis dalam menerapkan metode ini menyebabkan peserta didik lupa pada rasa fobia yang selama ini tertanatam dalam mindsetnya bahwa matematika itu sulit, ditandai dengan antusiasnya peserta didik pada saat jam pelajaran matematika telah tiba mereka berlarian mengambil tempat duduk berkelompok di depan. karena penulis sudah berkoordinasi bagian sarana untuk menetapkan pada jam matematika akan menggunakan laboratorium bahasa. Yang kedua peserta didik antusias mengirim tugas lewat WA dan mereka mereka memperoleh nilai baik tanpa penulis minta, peserta didikpun betah di ruang belajar walau jam istirahat, Selanjutnya nilai rata-rata ujian tengah semesternya melampaui diatas ketuntasan kriteria minimal.    


Bookmark

Cari Artikel Lain

Artikel terkait lainnya