Mural, Sebagai Wahana Penumbuhan Budi Pekerti

  Disukai 37
  Dilihat 1510
refleksi

sumber ilustrasi : Foto kamera
Diterbitkan : 1 Juli 2022 16:56
Sumber : Harian TEMPO.CO
Penulis : LASMINI
RPP Terkait : RENCANA PEMBELAJARAN_KS Calon Pelaksana PSP AIII

Artikel

MURAL, SEBAGAI WAHANA PENUMBUHAN BUDI PEKERTI

Anak perempuan Sudarman kini tengah ketakutan. Sekretaris Forum Komunikasi Komite SMP Kota Yogyakarta itu mengatakan anaknya tengah mengalami trauma. Anak tersebut diduga menjadi korban dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok remaja tak dikenal.

Di Yogyakarta, istilah kekerasan dengan menggunakan senjata tajam disebut  dengan klithih. Istilah klithih ini juga merujuk pada kelakuan kenakalan anak yang sudah diluar batas kewajaran. 

Menurut Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta Achmad Charis Zubair kasus kekerasan yang melibatkan anak sebagai pelaku dinilai sudah mengkhawatirkan. “Tidak bisa dibayangkan, anak berani melakukan tindakan yang biasa dilakukan penjahat,” kata Achmad.

Berbagai peristiwa seperti di atas sering terjadi di lingkungan kita. Yang memprihatinkan adalah bahwa pelakunya kebanyakan pelajar yang masih di bawah umur. Akibatnya waktu berharga yang mestinya dilalui mereka dengan ceria, penuh canda tawa bersama teman-temannya di sekolah, harus mereka habiskan di tempat terisolasi dari lingkungan, bahkan dibalik jeruji besi yang menyedihkan. Semua berawal dan tidak lepas dari apa yang disebut dengan budi pekerti.

Menurut terminologi pengertian budi pekerti ialah nilai-nilai perilaku manusia yang diukur berdasarkan kebaikan dan keburukannya lewat ukuran norma agama, hukum, norma, tata krama, serta sopan santun, ataupun budaya atau adat istiadat sebuah masyarakat sebuah bangsa.

Adapun pengertian penumbuhan budi pekerti ialah sebuah upaya pembentukan, peningkatan, pengembangan, pemeliharaan serta perbaikan perilaku pada peserta didik supaya mau dan dapat melaksanakan tugas hidupnya dengan selaras, seasi, dan seimbang diantara lahir batin, material, speritual, jasmani-rohani, dan juga individu sosial. Penumbuhan budi pekerti harus diupayakan sejak dini diantaranya melalui lembaga-lembaga pendidikan.

Pendidikan budi pekerti sangat penting agar peserta didik mampu memahami, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai budi pekerti luhur yang terdapat dalam kehidupan bermasyarakat (Depdiknas,2003a). Dengan pendidikan budi pekerti diharapkan mampu menjadi sarana untuk mengembangkan karakter bangsa (Nation Character Building) yang lebih beradab. Melihat pentingnya peran pendidikan budi pekerti yang strategis dalam pembentukan bangsa yang beradab, maka dalam kurikulum telah ditetapkan bahwa pendidikan budi pekerti merupakan bagian integral dari semua mata pelajaran pada semua jenjang pendidikan di sekolah, termasuk dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (Depdiknas 2003b). Namun dalam perjalanan bangsa sampai saat ini, kondisi tersebut belum terwujud. Menurut Parji (2002), pendidikan budi pekerti yang berjalan sampai saat ini ditengarai berbagai pihak belum berhasil dalam mewujudkan fungsinya, yaitu pembentukan karakter bangsa yang beradab. Berbagai pihak juga menengarai bahwa kegagalan pendidikan budi pekerti yang terjadi sampai saat ini dikarenakan pendidikan budi pekerti hanya menekankan pada aspek kognitif saja. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan budi pekerti belum relevan dengan dinamika psikologis perilaku normal.

Melalui Permendikbud No. 23 tahun 2015, Kemendikbud mendorong agar semua pelaku pendidikan memeiliki budi pekerti. Caranya dengan menciptakan iklim sekolah dan lingkungan yang lebih baik agar semua warganya turut berbudi pekerti.

Dalam Pasal 2 disebutkan bahwa Pendidikan Budi Pekerti bertujuan untuk: 

(a) menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan bagi siswa, guru, dan tenaga kependidikan; menumbuhkembangkan kebiasaan yang baik sebagai bentuk pendidikan karakter sejak di keluarga, sekolah, dan masyarakat.

(b) menjadikan pendidikan sebagai gerakan yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan atau keluarga.

(c) menumbuhkembangkan lingkungan dan budaya belajar yang serasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Pendidikan budi pekerti memiliki tujuan untuk mengembangkan nilai, perilaku, dan sikap siswa dalam melancarkan akhlak mulia ataupun budi pekerti luhur. Pendidikan budi pekerti juga merupakan nilai-nilai yang akan dibentuk yakni tertanamnya akhlak mulia di dalam diri peserta didik kemudian akan diwujudkan pada tingkah lakunya. Penumbuhan budi pekerti sudah seharusnya dilakukan sejak dini, karena pada dasarnya setiap peserta didik memiliki bibit-bibit nilai positif. Mereka perlu pembiasaan yang memungkinan pengetahuan itu menjadi karakter diri dalam keseharian dan akhirnya menjadi budaya bersama.

Pendidikan budi pekerti juga bertujuan untuk menumbuhkan sikap penghargaan terhadap sesama manusia, sehingga apabila budi pekerti sudah dimiliki oleh peserta didik, mereka akan tau bahwa pribadi manusia sangat bernilai, sehingga tak boleh direndahkan ataupun disakiti, apalagi sampai disingkirkan. Jika hal ini terwujud, maka tak akan terjadi tindak kekerasan antar sesama manusia seperti yang terjadi sekarang ini.

Dalam lingkungan pendidikan, berbagai wahana dan strategi dilakukan untuk penumbuhan budi pekerti. Di SLB Tunas Sejahtera misalnya menggunakan wahana “mural” dalam usaha penumbuhan budi pekerti ini.

Mural adalah gambar atau lukisan pada bidang yang luas seperti dinding, lantai bawah, langit-langit bangunan yang bersifat permanen. Mural dapat berupa gambar bebas maupun gambar berisi moral yang ditujukan kepada siapa saja yang melihat gambar tersebut.

Mural yang digunaan sebagai wahana dalam penumbuhan budi pekerti adalah berupa gambar yang menginspirasi peserta didik dan warga sebuah lembaga pendidikan agar mempunyai budi pekerti luhur. Sebagai contoh misalnya gambar peserta didik berangkat sekolah bersama temannya dengan bergandeng tangan, akan menginspirasi untuk hidup rukun, gambar orang menolong temannya yang sakit akan menginspirasi untuk suka menolong, dan sebagainya. Mural sangat cocok digunakan sebagai wahana penumbuhan budi pekerti. Sebab dengan sering melihat gambar yang memuat pendidikan budi pekerti, lambat laun sikap positif akan tertanam pada diri peserta didik. Dengan demikian, budi pekertinya yang baik akan tumbuh seiring bertambahnya usia sampai peserta didik dewasa.


Bookmark

Cari Artikel Lain

Artikel terkait lainnya