PENDIDIKAN KARAKTER DI MASA PANDEMIK COVID-19

  Disukai 12x
  Dilihat 590x

9:10 am

bacaan

sumber ilustrasi : Koleksi Pribadi
Sumber : Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia Vol. 4 No. 2, September 2019.
Penulis : Mohamad Yani Pehang, S.Pd

Pendidikan Karakter

Nuraini (2014 dalam Sutisna et al. 2019) mengatakan bahwa pendidikan karakter adalah suatu proses pembelajaran yang mendukung perkembangan sosial emosional dan etis siswa dan sebuah upaya untuk membangun karakter. Menurut Nuh (2019, dalam Sutisna et al. 2019), pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk pribadi yang beriman dan bertakwa yang lebih bertanggung jawab atas segala perilaku yang dimiliki oleh siswa, termasuk di dalamnya rasa percaya diri, bertanggung jawab, kompetitif, inovatif, kreatif, murah hati, berjiwa besar, baik hati, jujur, lapang dada, berjiwa sosial yang tinggi dan sebagainya. Secara teoritis ada tiga tujuan utama dari pendidikan karakter, yaitu untuk membentuk dan mengembangkan profesi, memperbaiki dan menguatkan pribadi, menyaring dan memilah kebudayaan dan peradaban yang berkembang. Untuk mewujudkan semua itu diperlukan prinsip-prinsip demi mewujudkan keberhasilan pendidikan karakter di sekolah

Yaumi (2016 dalam Sutisna et al. 2019) menyebutkan ada sebelas prinsip yang bisa dijadikan penunjang keberhasilan pendidikan karakter menurut Thomas Lickona, yaitu: 1) Komunitas sekolah mengembangkan nilai-nilai etika dan kemampuan inti sebagai landasan karakter yang baik; 2) Sekolah mendefinisikan karakter secara komprehensif untuk memasukkan pemikiran, perasaan, dan perbuatan; 3) Sekolah menggunakan pendekatan komprehensif, sengaja, dan proaktif untuk mengembangkan karakter; 4) Sekolah menciptakan masyarakat peduli karakter; 5) Sekolah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan tindakan moral; 6) Sekolah menawarkan kurikulum akademik yang berarti menantang yang menghargai semua peserta didik mengembangkan karakter, dan membantu mereka untuk mencapai keberhasilan; 7) Sekolah mengembangkan motivasi diri peserta didik; 8) Staf sekolah adalah masyarakat belajar etika yang membagi tanggung jawab untuk melaksanakan pendidikan karakter dan memasukkan nilai-nilai inti yang mengarahkan peserta didik’ 9) Sekolah mengembangkan kepemimpinan bersama dan dukungan yang besar terhadap permulaan atau perbaikan pendidikan karakter; 10) Sekolah melibatkan anggota keluarga dan masyarakat sebagai mitra dan upaya pembangunan karakter; 11) Sekolah secara teratur menilai dan mengukur budaya dan iklim fungsi-fungsi staf sebagai pendidik karakter serta sejauh mana peserta didik mampu mengimplementasikan karakter yang baik dalam pergaulan sehari-hari

Kondisi Pendidikan Indonesia di Masa Pandemik

Aji (2020) menjelaskan bahwa Swedia memiliki jumlah hari yang berbeda untuk mempersiapkan diri menghadapi tes penting. Perbedaan-perbedaan ini bersifat acak kondisional yang penulis coba mengasumsikan kondisi yang sama di Indonesia. Para remaja di Swedia itu menambah belajar selama sepuluh hari sekolah dan hasil yang mereka dapatkan adalah meningkatkan skor pada tes pengetahuan mereka. Begitu juga ketika kita merujuk Jonsson (dalam Aji, 2020), bahwa menghadiri sekolah akan meningkatkan kapasitas memori murid. Merujuk Carlsson (dalam Aji, 2020) jika pada tes penggunaan pengetahuan dan diasumsikan setiap kehilangan tidak bersekolah selama 10 hari adalah 1% dari standar deviasi maka siswa sekolah dalam 12 minggu atau 60 hari sekolah mereka akan kehilangan 6% dari standar deviasi. Kondisi ini bukan masalah sepele. Siswa akan terganggu pengetahuan di masa datang dengan masalah pengetahuan yang lebih kompleks.

Hal serupa didukung oleh Lavy (dalam Aji, 2020) yang merumuskan dampak pada pembelajaran karena perbedaan waktu pengajaran di seluruh negara di dunia. Ia menstimulasikan bahwa total jam mengajar mingguan dalam matematika, bahasa dan sains adalah 55% lebih tinggi di Denmark daripada di Austria. Perbedaan ini penting sebab perbedaan signifikan dalam hasil skor test sekitar 6% dari standar deviasi seperti disebutkan di atas. Sehingga jelas berapa pun deviasi yang diterima oleh pelajar Indonesia karena kehilangan waktu belajar di sekolah jelas berakhir pada kerugian siswa akan tergerusnya pengetahuan mereka.

Lebih lanjut Aji (2020) menyampaikan bahwa kesamaan situasi Indonesia dengan negara-negara lain di belahan dunia mesti segera diatasi dengan seksama. Dalam keadaan normal saja banyak ketimpangan yang terjadi antardaerah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di bawah kepemimpinan Menteri Nadiem Makarim, mendengungkan semangat peningkatan produktivitas bagi siswa untuk mengangkat peluang kerja ketika menjadi lulusan sebuah sekolah. Namun dengan hadirnya wabah Covid-19 yang sangat mendadak, maka dunia pendidikan Indonesia perlu mengikuti alur yang sekiranya dapat menolong kondisi sekolah dalam keadaan darurat.

Sekolah perlu memaksakan diri menggunakan media daring. Namun penggunaan teknologi bukan tidak ada masalah, banyak varian masalah yang menghambat terlaksananya efektivitas pembelajaran dengan metode daring, di antaranya adalah:

  1. Keterbatasan Penguasaan Teknologi Informasi oleh Guru dan Siswa. Kondisi guru di Indonesia tidak seluruhnya paham penggunaan teknologi, ini bisa dilihat dari guru-guru yang lahir tahun sebelum 1980-an. Kendala teknologi informasi membatasi mereka dalam menggunakan media daring, dengan siswa yang kondisinya hampir sama dengan guru-guru yang dimaksud dengan pemahaman penggunaan teknologi.
  2. Sarana dan Prasarana yang Kurang Memadai. Perangkat pendukung teknologi jelas mahal. Banyak di daerah Indonesia yang guru pun masih dalam kondisi ekonominya yang mengkhawatirkan. Kesejahteraan guru maupun murid yang membatasi mereka dari serba terbatas dalam menikmati sarana dan prasarana teknologi informasi yang sangat diperlukan dengan musibah Covid-19 ini.
  3.  Akses Internet yang Terbatas. Jaringan internet yang benar-benar masih belum merata di pelosok negeri. Tidak semua lembaga pendidikan baik di sekolah dasar maupun sekolah menengah dapat menikmati internet. Jika ada pun jaringan internet kondisinya masih belum mampu memenuhi kebutuhan media daring.
  4. Kurang siapnya penyediaan Anggaran. Biaya juga sesuatu yang menghambat karena aspek kesejahteraan guru dan murid masih jauh dari harapan. Ketika mereka menggunakan kuota internet untuk memenuhi kebutuhan media daring, maka jelas mereka tidak sanggup membayarnya. Ada dilema dalam pemanfaatan media daring, ketika menteri pendidikan memberikan semangat produktivitas harus melaju, namun di sisi lain kecakapan dan kemampuan finansial guru dan siswa belum melaju ke arah yang sama. Negara pun belum hadir secara menyeluruh dalam memfasilitasi kebutuhan biaya yang dimaksud.

Urgensi Pendidikan Karakter di Masa Pandemik Covid-19

Laksana (2015) menjelaskan ada berapa hal yang terkait dengan pentingnya menanamkan pendidikan karakter di antaranya adalah: 1) Selama dimensi karakter tidak menjadi bagian dari kriteria keberhasilan dalam pendidikan, selama itu pula pendidikan tidak akan berkontribusi banyak dalam pembangunan karakter; 2) Dalam kenyataanya, pendidik berkarakterlah yang menghasilkan SDM handal dan memiliki jati diri. Oleh karena itu, jadilah manusia yang memiliki jati diri, berkarakter kuat dan cerdas; 3) Pilar akhlak (moral) yang dimiliki dalam diri seseorang, sehingga ia menjadi orang yang berkarakter baik (good character), memiliki sikap jujur, sabar, rendah hati, tanggung jawab dan rasa hormat, yang tercermin dalam kesatuan organisasi pribadi yang harmonis dan dinamis. Tanpa nilai-nilai moral dasar (basic moral values) yang senantiasa mengejewantah dalam diri pribadi kapan dan di mana saja, orang dapat dipertanyakan kadar keimanan dan ketaqwaan. Nilai-nilai itu meliputi: (1). Ketuhanan yang maha Esa, (2) Kemanusiaan yang adil dan beradap, (3) Persatuan Indonesia, (4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan (5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; 4) Ada nilai-nilai yang harus ditanamkan pada diri anak di usia SD yaitu: kejujuran, loyalitas dan dapat diandalkan, hormat, cinta, ketidakegoisan dan sensitivitas, baik hati dan pertemanan.

Menurut Thornas Lickona (2004 dalam Tutuk, 2011), karakter terdiri dari 3 bagian yang saling terkait, yaitu pengetahuan tentang moral (moral knowing), perasaan (moral feeling), dan perilaku bermoral (moral behavior). Karakter yang baik terdiri dari mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai atau menginginkan kebaikan (loving or desiring the good), dan melakukan kebaikan (acting the good). Oleh karena itu, cara membentuk karakter yang efektif adalah dengan melibatkan ketiga aspek tersebut. Selain itu, karakter adalah otot-otot yang sudah terbentuk, yang berkembang melalui proses panjang latihan dan kedisiplinan yang dilakukan setiap hari. Ibaratnya seperti seorang binaragawan yang ototnya terbentuk melalui proses latihan dan kedisiplinan tinggi sehingga “otot-otot”nya kokoh terbentuk.

Berdasarakan pendapat Lickona (2004 dalam Tutuk, 2011) di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa ada 3 (tiga) pendekatan yang dapat  guru lakukan untuk menginternalisasi nilai-nilai karakter kepada siswa, yaitu :

  1. Moral Knowing; dalam pembelajaran daring yang guru laksanakan, guru memperkenalkan nilai-nilai karakter melalui deskripsi yang berkaitan dengan materi ajar, contohnya dalam pengajaran teks naratif guru dapat mengambil materi yang berkaitan dengan cerita-cerita rakyat yang terkandung di dalamnya pesan-pesan moral yang sarat akan pendidikan karakter. Dalam pengajaran ini produk yang dapat siswa hasilkan adalah siswa dapat membuat video yang menjelaskan tentang pesan-pesan moral yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut.
  2. Moral Feeling; setelah murid mengetahui tentang nilai-nilai yang terkandung pada materi ajar, maka guru akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan nilai-nilai tersebut. Harapannya siswa akan paham pentingnya karakter yang baik.
  3. Moral Behaviour; langkah terahir yang diharapkan adalah siswa akan mengaplikasikan sikap atau karakter yang baik dalam kehidupannya sehari-hari, menjadi pribadi yang santun dan berahlak yang baik.

Referensi

Aji. 2020. “Dampak Covid-19 pada Pendidikan di Indonesia: Sekolah, Keterampilan, dan Proses Pembelajaran”. SALAM; Jurnal Sosial & Budaya Syar-i FSH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Vol. 7 No. 5 (2020). Jakarta.

Ningsih, Tutuk. 2011. “Implementasi Pendidikan Karakter dalam Perspektif di Sekolah”. INSANIA Vol.16 No.2, Mei – Agustus 2011.

Sigit Dwi Laksana. 2015. “Urgensi Pendidikan Karakter”. MUADDIB Vol.05 No.01 Januari-Juni.

Sutisna et.al. 2019. “Keteladanan Guru sebagai Sarana Penerapan Pendidikan Karakter Siswa”, Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia Vol. 4 No. 2, September 2019 hal. 29 – 33. Singkawang.



Cari Artikel Lain

Artikel terkait lainnya