Kesepakatan / Keyakinan Kelas yang Berpihak Pada Murid sebagai Perwujudan Budaya Positif di Sekolah

  Disukai 3
  Dilihat 1613
Penulis : YOHANA HARIYONO
Diterbitkan : 3 Februari 2022 16:22

LATAR BELAKANG

Konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah “Menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat”. Dalam proses menuntun, anak perlu diberikan kebebasan dalam belajar serta berpikir, dituntun oleh para pendidik agar anak tidak kehilangan arah serta membahayakan dirinya. Hal ini menjadi tema besar Kebijakan Pendidikan Indonesia yaitu MERDEKA BELAJAR

UU No 20 tahun 2003 Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Kedua hal mengenai MERDEKA BELAJAR dan TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA melahirkan sebuah pedoman yaitu Profil Pelajar Pancasila. Untuk memantapkan pembentukan watak dan peradaban ini, bisa dilakukan dengan cara menerapkan budaya positif di sekolah.  Sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, nyaman agar murid murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri dan bertanggung jawab. Salah satu strategi yang perlu ditinjau ulang adalah bentuk disiplin yang dijalankan selama ini di sekolah-sekolah. Lazimnya Disiplin itu dikaitkan dengan kontrol. Dalam hal ini kontrol guru dalam menghadapi murid.

Sebagai langkah awal untuk penerapan budaya positif, bisa dimulai dengan membuat kesepakatan kelas/keyakinan kelas. Dalam pelaksanaannya, kesepakatan kelas/keyakinan kelas ini harus melibatkan peserta didik. Menurut Gossen (1998), “suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam atau memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan”

 

TUJUAN

Adapun tujuan dilaksanakan kesepakatan kelas ini adalah :

  • Menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid
  • Memunculkan keterlibatan murid dalam menentukan kelas yang diimpikan sehingga murid lebih bertanggung jawab akan keputusan yang mereka buat bersama-sama
  • Menumbuhkan komunikasi efektif antara murid dan guru

 

LINIMASA TINDAKAN

Adapun, karena saat ini proses pembelajaran dilakukan secara hybrid (online dan onsite), maka pembuatan kesepakatan kelas dilakukan dalam bentuk tulisan oleh para siswa di kelas 8B, SMP Kristen Kalam Kudus Malang dengan menggunakan media padlet.

Pada akhir semester genap tahun pelajaran 2021/2022 saat memasuki pembelajaran secara onsite anak-anak kelas 8B diajak menuliskan impian mereka tentang kelas yang mereka inginkan. Saat itu yang mengikuti proses pembentukan kesepakatan kelas sebanyak 28 siswa.

Langkah-langkah untuk pembuatan kesepakatan kelas ini adalah:

  • Bertanya dulu kepada siswa tentang bentuk kelas impian mereka
  • Bagaimana cara mewujudkan impian tersebut.

 

Dari jawaban yang diberikan siswa ini, guru mencoba merangkum menjadi poin-poin yang akan diterapkan di kelas. Untuk membuat poin ini, guru melakukan beberapa kesepakatan bersama dengan siswa dan suasana kelas menajdi menyenangkan karena ada diskusi yang menarik. Dengan adanya keyakinan kelas yang sudah dibuat dan disepakati bersama-sama, diharapkan siswa tak lagi terpaksa dan terancam dalam berbuat kebajikan yang sesuai nilai-nilai karakter. Sehingga melalui keyakinan kelas terciptalah budaya positif di kelas dan sekolah.

DOKUMENTASI KEGIATAN

1. Siswa menuliskan impian mereka dan bagaimana cara mewujudkan nya

2. Kegiatan diskusi dalam kelas

3. Terbentuklah keyakinan kelas

 


Bookmark

Cari Catatan Guru Penggerak Lain

Catatan Guru Penggerak terkait lainnya